Analisis Kulitivasi

Pandangan dasar analisis kultivasi adalah bawa menonton televisi itu secara independen akan berkontribusi dalam membentuk konsepsi penontonnya tentang realitas sosial. Hipotesis yang diajukan adalah bahwa mereka yang lebih banyak “hidup dalam dunia televisi” akan memiliki gambaran tentang “kehidupan nyata” sebagaimana yang dilihatnya dalam televisi itu (Gerbner, Gross, Morgan, dan Signorielli dalam Bryant & Zilmann, 2002: 47). Teori ini mengandaikan bahwa orang yang menonton televisi dalam jumlah waktu yang banyak akan menumbuhkan pandangan terhadap masyarakat dan dunia sebagaimana pola yang disajikan oleh realitas semu televisi (television’s pseudo-reality) (Nacos, 2000).

Dalam teori kultivasi ini dikenal konsep cultivation differential, yaitu perbedaan dalam pola tanggapan antara pecandu (heavy viewers) dan penonton sekadarnya (light viewers). Konsep ini digunakan untuk melihat seberapa jauh tingkat pengaruh televisi dalam membentuk sikap khalayaknya. Misalnya, dalam acara televisi, orang tua kerap digambarkan secara negatif, dan pecandu televisi, utamanya yang lebih muda, cenderung memiliki pandangan negatif terhadap kalangan tua itu ketimbang penonton sekadarnya. Kebanyakan pecandu ternyata tidak menyadari akan berbagai pengaruh menonton televisi terhadap perilaku dan nilai yang menimpa diri mereka.

Keadaan yang demikian bisa berakibat pada kepercayaan yang berlebihan terhadap, misalnya, jumlah kekerasan yang terjadi di tengah masyarakat, stereotipisasi ras, kepercayaan tentang siapa yang lebih dikorbankan dalam suatu tindak kekerasan, kepercayaan tentang apa yang seharusnya dilakukan dengan identifikasi terhadap umur, gender, atau etnis, dan berbagai kepercayaan lain yang direfleksikan melalui acara televisi. Analisis kultivasi mencoba mengukur seberapa besar televisi mempengaruhi persepsi khalayak terhadap realitas – seberapa jauh program televisi menumbuhkan pemahaman kita tentang dunia (Stossel, 1997).

Teori kultivasi sebenarnya melihat bahwa televisi memiliki dampak jangka panjang yang meskipun kecil, perlahan dan tidak langsung, namun sifatnya menumpuk (kumulatif) dan nyata (signifikan).

Pengaruh televisi ini lebih pada aspek sikap (attitude) ketimbang perilaku (behavior) khalayak. Bagi pecandu televisi – dioperasinalisasikan dengan menonton 4 jam dalam sehari atau lebih – dalam dirinya akan tertanam sikap yang konsisten (sejalan) dengan apa yang ditontonnya dalam acara televisi ketimbang persepsinya dengan dunia nyata. Jadi, menonton televisi mungkin akan menghasilkan mindset tentang kejahatan, misalnya, ketimbang perilaku kejahatan. Dalam kultivasi, dibedakan antara first order dan second order effect. Yang pertama adalah dampak terhadap keyakinan akan kehidupan nyata seperti kejahatan, sedang yang kedua merupakan dampak terhadap sikap tertentu yang ada pada individu, seperti perasaan (tidak) aman yang ditimbulkannya.

Gerbner meyakini bahwa media massa menumbuhkan sikap dan nilai yang sebenarnya sudah ada di tengah masyarakat; di mana media melestarikan sekaligus menyebarluaskan nilai-nilai itu kepada sesama anggota masyarakat. Misalnya, dalam politik, Gerbner menunjukkan bahwa televisi cenderung untuk meneguhkan persepktif politik yang moderat. Dalam hal ini, Gross (dalam Boyd-Barret & Braham, 1987: 100) menyatakan bahwa televisi merupakan instrumen bagi tatanan industri mapan yang berfungsi untuk melestarikan ketimbang memupuskan kepercayaan dan perilaku konvensional.

Teori kultivasi juga melihat bahwa media massa merupakan agen sosialisasi, karenanya perlu dikaji apakah dengan semakin banyak menonton televisi, juga berart semakin percaya akan realitas yang dikonstruksi oleh televisi itu. Hasilnya adalah bahwa drama televisi ternyata memang memiliki pengaruh yang kecil, namun signifikan, terhadap sikap, kepercayaan dan penilaian terhadap dunia sosial mereka. Pada pecandu televisi itu memang ternyata lebih dapat dipengaruhi oleh framing yang dilakukan oleh televisi daripada penonton sekadarnya (istilah untuk light-viewers), utamanya dalam hal yang tidak dialaminya sendiri oleh penonton itu. Bisa jadi karena penonton sekadarnya memiliki sumber informasi yang lebih kaya daripada pecandu televisi. Dalam hubungannya dengan pengalaman langsung-tidak langsung ini, muncul gagasan bahwa penonton yang lebih muda akan lebih terpengaruh oleh televisi ketimbang kelompok penonton yang lain (van Evra, 1990: 167).

Televisi dianggap oleh Gerbner telah mendominasi ‘lingkungan simbolik’. Ini sejalan dengan penilaian McQuail dan Windahl (1993: 100) bahwa televisi bukan lagi sekadar jendela atau refleksi atas dunia nyata, namun televisi telah menjadi dunia itu sendiri. Selanjutnya Gerbner juga menyatakan bahwa representasi yang berlebihan atas kekerasan di televisi tidaklah memicu perilaku kekerasan, namun lebih mengirimkan pesan simbolik akan pentingnya hukum. Misalnya, genre action meneguhkan keyakinan akan keunggulan hukum atas kejahatan. Di televisi, “penjahat” akan selalu kalah oleh “lakon” (Jw).

Perkembangan

Teori kultivasi mulai dikembangkan dalam sebuah proyek bernama Cultural Indicator yang dilakukan oleh Gerbner dan beberapa koleganya sejak tahun 1968. Sejak publikasi pertama penelitian ini pada 1976, analisis kultivasi mendapatkan berbagai tanggapan. Setelah publikasi ini, dilakukan beberapa penelitian serupa dengan hasil yang relatif sama, yaitu bahwa memang menonton televisi Pecandu televisi terlalu melebih-lebihkan tentang keadaan keamanan di lingkungannya, dan berfikir bahwa dirinya juga besar kemungkinan untuk terlibat dalam kejahatan (Gerbner, Gross, Jackson-Beeck, Jeffries-Fox, & Signorielli, 1978). Televisi membentuk persepsi tentang dunia nyata.

Tidak semua bisa menerima dampak kultivasi ini. Hughes (1980) dan Hirsch (1980) melakukan analisis ulang terhadap data National Opinion Research Center (NORC), yang dulu juga digunakan oleh Gerbner, dan melakukan replikasi. rapi hasilnya tidak sama dengan yang dilakukan Gerbner.  Kritik itulah yang kemudian membuat Gerbner memerkenalkan resonansi dan mainstreaming.

Perkembangan selanjutnya menunjukkan bahwa dalam kultivasi topik yang dikembangkan menjadi jauh lebih rumit ketimbang ketika pertama dimunculkan. Misalnya ditunjukkan ada temuan bahwa kultivasi kurang tergantung pada jumlah total menonton pada acara tertentu. Variabel lain yang juga mengemuka adalah bahwa meski sama-sama pecandu, efek kultivasi lebih banyak terjadi pada penonton yang memiliki tingkat keterlibatan sosialnya tinggi. Hasil kultivasi ternyata juga dipengaruhi oleh tingkat kepercayaan terhadap acara televisi.

Potter (1988) menemukan bahwa variabel seperti identifikasi terhadap karakter televisi, anomi, IQ dan kebutuhan informasional pemirsa memiliki dampak kultivasi yang berbeda pula. Ini menekankan bahwa orang yang berbeda akan bereaksi secara berbeda terhadap isi televisi, dan perbedaan ini pada akhrnya akan menentkan tingkat kekuatan dampak kultivasi.

Pada perkembangan terakhir, terdapat tiga kecenderungan pokok dalam penelitian kultivasi. Yang pertama memperluas fokus kultivasi ke dalam negara dan kebudayaan. Kedua, tentang pengukuran yang dikembangkan untuk menilai kultivasi yang terjadi. Terakhir tentang mekanisme konseptual yang menghasilkan terjadinya dampak kultivasi itu.

Mainstreaming, homogenisasi dan resonansi dalam televisi

Dalam pandangan teori kultivasi, pecandu televisi, tanpa membedakan tingkat pendidikan maupun penghasilan, cenderung memiliki opini yang homogen atau konvergen ketimbang pemirsa televisi sekedarnya; yang cenderung memiliki opini yang heterogen atau divergen. Efek kultivasi menonton televisi ini merupakan salah satu bentuk dari ‘levelling’ atau ’homogenizing’ opini. Gerbner menunjukkan bahwa ketika membandingkana antara pecandu dan penonton sekadarnya dengan latar belakang yang sama ketika melihat acara kekerasan, ternyata pecandu televisi meyakini bahwa dalam dunia nyata, kejahatan lebih sering terjadi ketimbang keyakinan penonton televisi sekedarnya. Itulah yang dimaksudkan sebagai mainstreaming effects (Gerbner, Gross, Morgan, Signorielli, 2002: 51). Singkatnya, “mainstreaming refers to the homogenization of people’s divergent perceptions of social reality into a convergent view” (Cohen & Weimann, 2000). Melalui proses mainstreaming ini, televisi diangga telah menjadikan dirinya sebagai melting-pot – satu konsep sosiologis yang menggambarkan bertemunya berbagai latar – masyarakat ((Gerbner, Gross, Morgan, Signorielli, 2002: 51).

Resonansi adalah efek “dosis ganda” (double dose) yang bisa melipatgandakan kultivasi. Efek semacam ini terjadi bila ternyata realitas yang dialaminya dalam kehidupan sehari-hari ternyata memiliki kesamaan dengan apa yang digambarkan oleh televisi. Resonansi akan memprkuat citra yang diunduhnya dari televisi tentang dunia nyata, bila ternyata terdapat kesamaan di antara keduanya. (Cohen & Weimann, 2000).

Misalnya tayangan televisi yang terus menerus tentang global warming. Bagi pecandu televisi, bisa diasumsikan bahwa persepsi mereka tentang pemanasan bumi akan lebih mengerikan ketimbang yang sesungguhnya terjadi. Ini disebabkan karena televisi sedemikian rupa menggambarkan dunia pada ancaman yang sangat serius. Itulah dampak kultivasi.

Selanjutnya, sesama pecandu televisi, baik yang tinggal di kota maupun pegunungan, dari kelas sosial dan tingkat pendidikan apapun dipastikan akan memiliki persepsi tentang pemanasan global yang sama. Itulah mainstreaming, dan homogenisasi.

Bila penonton televisi tadi adalah orang yang tinggal di pegunungan dan merasakan bahwa cuaca akhir-akhir ini memang tidak sesejuk dulu di wilayahnya, bisa dipastikan bahwa pengaruh berita tentang pemanasan global dalam bentuk kultivasi akan berlipat-lipat pada orang ini. Itulah resonansi.

Keterkaitan teori priming dengan kultivasi

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa ada keterkaitan yang kuat antara kultivasi dengan priming. Ini misalnya ditunjukkan oleh Josephson (1987) yang meneliti dampak priming mengenai kekerasan media terhadap perilaku anak-anak. Simpulannya adalah bahwa kekerasan dalam televisi akan memicu (prime) anak-anak untuk bertindak secara lebih keras.

Penelitian lain dilakukan oleh Anderson (1997) yang meneliti pengaruh kekerasan dalam media terhadap asesibilitas mengenai konsep yang berhubungan dengan agresi. Penelitian dilakukan terhadap mahasiswa yang kepada mereka ditunjukkan tayangan yang mengandung kekerasan dan tidak. Setelah itu, mereka diminta untuk membaca secara lantang beberapa kata yang diasosiasikan dengan konsep teretentu seperti agresi, eskapisme, dan kontrol. Hasilnya adalah bahwa memang kekerasan dalam media memunculkan dampak priming baik terhadap perasaan agresif maupun pikiran agresif.

Namun demikian, dari hasil beberapa penelitian di atas, ada beberapa hal yang harus dicermati.

Pertama, teori kultivasi merupakan hasil dari penelitian jangka panjang (longitudinal), sementara dampak priming muncul tidak dengan metode yang sama, bahkan sebagian adalah merupakan penelitian eksperimental-laboratorium.

Kedua, dalam teori kultivasi diyakini bahwa dampak media itu bersifat “jangka panjang yang meskipun kecil, perlahan dan tidak langsung, namun sifatnya menumpuk (kumulatif) dan nyata (signifikan)”. Sementara penelitian priming justru hendak melihat dampak sebagai sekuen dari priming isi media. Itu berarti bahwa dampak priming harus segera dieksplorasi segera setelah isi media diekspos terhadap khalayak. Apalagi bila mengingat bahwa dampak priming akan segera menghilang seiring dengan waktu berlalu (Josephson, 1987).

Ketiga, diyakini juga bahwa kultivasi lebih membidik sikap (attitude) ketimbang perilaku (behavior). Sementara pada priming, yang sering menjadi fokus justru adalah perilaku yang dilihat sebagai dampak langsung dari priming. Pada penelitian priming eksperimental di atas, keduanya langsung mengukur dampak priming pada perilaku yang dilakukan baik oleh anak-anak ketika diberi mainan maupun mahasiswa yang diminta membaca kata yang berhubungan dengan konsep tertentu.

Daftar Pustaka

Gerbner, Gross, Morgan, dan Signorielli, “Growing Up with Television: Cultivation Process” dalam Bryant, Jennings & Zillmann, Dolf (2002) Media Effects: Advances in Theory and Research. New Jersey & London: Lawrance Erlbaum Associates Publisher.

Nacos, Brigitte L. “Television and Its Viewers.” Political Science Quarterly. Summer 2000, vol. 115.

Stossel, Scott. “The Man Who Counts the Killings.” The Atlantic Monthly. May 1997. http://www.theatlantic. com/issues/97may/gerbner.htm

Boyd-Barrett, Oliver & Peter Braham (eds.) (1987): Media,Knowledge & Power. London: Croom Helm.

Evra, Judith van (1990): Television and Child Development. Jersey & London: Lawrance Erlbaum Associates Publisher.

McQuail, Denis & Sven Windahl (1993): Communication Models for the Study of Mass Communication. London: Longman.

Cohen, Jonathan & Weimann, Gabriel. “Cultivation Revisited: Some Genres Have Some Effects on Some Viewers.” Communication Reports. Summer 2000, vol. 13.

Roskos-Ewoldsen, David R, Roskos-Ewoldsen, Beverly & Carpenter, Francesca R. D, dalam Bryant, Jennings & Zillmann, Dolf (2002) Media Effects: Advances in Theory and Research. New Jersey & London: Lawrance Erlbaum Associates Publisher.

2 Responses to Analisis Kulitivasi

  1. itoh says:

    jenis media dan teks dong… kalo ada

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: